27
Jun
09

” DUA MACAM DALAM PEMBELAJARAN MUSIK ”

” DUA MACAM DALAM PEMBELAJARAN MUSIK ”

Pertama adalah pembelajaran keterampilan teknis memainkan alat musik (instrumen, atau vokal). Dalam tahap ini seseorang berusaha meningkatkan kemampuan koordinasi tubuh (otak, pendengaran, koordinasi otot kasar/ halus etc) yang diperlukan untuk menguasai sebuah alat musik.

Dalam tahapan ini, sesungguhnya seseorang sedang melatih “muscle memory” untuk mencapai tahapan-tahapan keterampilan tertentu. Dalam prinsip didaktika, maka muscle memory hanya dapat dilatih melalui pengulangan, atau dalam bahasa praktisnya, latihan.

Itu sebabnya ‘latihan’ musik dalam tahap skill adalah berarti sang siswa mengulang-ulang suatu ‘gerakan’ tertentu, sampai kelak gerakan (baca: koordinasi tubuh) untuk skill tersebut dapat dilakukan secara lancar dan otomatis.

Jika pertanyaan di atas ditujukan untuk proses ini, maka jawabannya relatif lebih bisa diprediksi, bahwa penguasaan alat musik sangat tergantung pada kemampuan muscle memory, atau “muscle intelligence” seseorang. Kita tahu ada orang yg dengan sekali melihat udah bisa meniru suatu gerakan secara persis, ada yg perlu diulang berkali-kali, ada yg susah banget biarpun sudah dilatih berkali-kali-kali🙂 Tapi karena “pengulangan” adalah sesuatu yg sifatnya kuantitatif, maka sebenernya sudah dapat dicari berapa frekuensi latihan rata-rata yg diperlukan oleh umumnya siswa, dan berdasarkan itulah pihak pendidik mengembangkan kurikulum pengajaran musiknya.

Pengajaran notasi, itu juga masuk dalam ranah skill. Yaitu menguatkan asosiasi titik (not) di garis birama dengan posisi jemari di alat musik, serta lamanya not dibunyikan dll. Ini proses inteligensi otak, dan berlanjut ke muscle memory juga. Konon ada juga interaksi antara otak kanan dan otak kiri dalam proses ini.

Jenis Pembelajaran kedua, adalah justru yang lebih hakiki dalam bermusik, yaitu bagaimana membuat nada-nada hasil latihan ini menjadi bermakna, make sense, dan berfungsi sebagai MUSIK. Hal ini membutuhkan penyatuan antara kapasitas intelektual, kapasitas koordinasi otot, dengan “kapasitas spirit” manusia,…. which is itulah satu-satunya kapasitas yang bisa membuat rangkaian bunyi menjadi sesuatu yang kemudian dikatakan “indah”.

Sungguh menarik bila kita sudah memasukkan unsur “Musikalitas” ini. Sesungguhnya ada misteri yang belum sepenuhnya dipahami manusia. Kenapa bunyi yang diatur menurut pola tertentu, pilihan timbre tertentu, atau kata-kata yang diucapkan dengan irama tertentu, kemudian bisa mentrigger sesuatu dalam diri pendengarnya. Entah itu perasaan, mood, atau apa.


0 Responses to “” DUA MACAM DALAM PEMBELAJARAN MUSIK ””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: